Proses Kreatif Ahmadun Y Herfanda: Bersastra dalam Arus Banjir Fakta

Proses Kreatif Ahmadun Y Herfanda: Bersastra dalam Arus Banjir Fakta

Related Post

  • No related post.

OLEH: AHMADUN YOSI HERFANDA, penyair dan pemimpin umum portal sastra Litera dan Tangselone.com.

Seperti halnya cinta, menjadi penyair adalah pilihan yang sulit dijelaskan. Tak ada kalkulasi angka-angka, tak ada kalkulasi nasib dan masa depan yang jelas, ketika aku memilih untuk menjadi penyair. Yang ada hanyalah harapan nama baik dan rasa syukur ketika sajak-sajakku kelak dibaca dan diapresiasi banyak orang, terpampang di rubrik sastra surat kabar dan majalah, disimak oleh para siswa dalam pengajaran apresiasi sastra, dan dibacakan di panggung-panggung sastra.

Rupanya, mencintai puisi adalah sejenis cinta buta, dan aku benar-benar cinta buta pada puisi. Pelan tapi pasti, puisi merebut seluruh hati dan otakku, perasaan dan pikiranku. Seperti dengan pacarku saja, apapun yang aku alami, apapun yang aku rasakan, apapun yang aku pikirkan, ingin aku curhatkan kepada puisi. Kenanangan masa kecilku, rasa getir masa remajaku, merah-hijau persentuhan sosialku, kegelisahan penjelajahan religiusitasku, semuanya, ingin aku catatkan pada puisi.

Maka, mulailah aku menjadi sosok pelamun, sosok perenung, sosok yang lebih banyak menyendiri dan berasyik masuk dengan puisi. Ketika remaja lain memilih keluyuran dan nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, aku memilih menyepi di belakang meja untuk menulis puisi. Ketika anak-anak lain sibuk mengoleksi mainan-mainan baru dan foto-foto celebritis idola, aku lebih tertarik mengoleksi puisi.

Ketika itu aku masih kelas 2 SMAN 1 Kendal. Melalui guru bahasa Indonesia, aku mulai berkenalan dengan sajak-sajak Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Melalui pergaulan di luar sekolah dengan kawan-kawan yang suka membaca, akupun mengenal Rendra dan sempat mengagumi sajak-sajaknya. Dan, akupun makin jatuh cinta pada puisi. Hampir tiada hari tanpa puisi. Selain menulis, waktu kuhabiskan untuk membaca, mengoleksi, dan mengkliping puisi.

Selulus SMA, kesukaanku mengkliping puisi dari berbagai surat kabar dan majalah makin menjadi-jadi. Dari sini, selain jadi tahu nama-nama penyair dan berbagai gaya puisi mereka, aku pun jadi tahu pula bahwa puisi-puisi yang kutulis dapat dikirimkan ke media massa. Berbekal mesin ketik tua yang aku beli dari lapak barang loak di Pasar Johar, Semarang, mulailah aku mengetik puisi-puisi yang semula kutulis tangan.

Saking tuanya mesin ketik itu, kepala-kepala hurufnya tidak gampang diketukkan pada kertas yang terpasang pada bantalannya. Ketika tuts mesin ketik diketuk, kepala huruf akan berhenti di gulungan kertas. Maka, jari tangan kanan dan kiri harus berbagi tugas: jari tangan kanan mengetuk keras tuts mesin ketik, jari tangan kiri menarik kepala huruf untuk dikembalikan ke posisi semula. Jika tidak ditarik, kepala-kepala huruf itu akan mengumpul di depan gulungan kertas, dan macet.

Kerentaan mesin ketik tidak menyurutkan semangatku untuk terus mengetik puisi, tiap hari. Aku pun bolak-balik ke kantor pos untuk mengirimkan puisi-puisi itu ke berbagai media massa. Tetapi, rupanya, para redaktur sastra di media-media massa tersebut tidak mengerti penderitaanku. Ratusan puisi aku tulis dan kirimkan ke berbagai media sastra, berbulan-bulan aku menunggu, sambil tiap hari Sabtu dan Minggu membolak-balik surat kabar dan majakah di lapak pengecer surat kabar, tak juga puisi atau cerpenku dimuat.

Hasilnya bukan kegembiraan karena karyaku terpampang di surat kabar atau majalah, tetapi sebaliknya perasaan yang tidak enak. Kebiasaanku membuka-buka rubrik sastra surat kabar dan majalah di kios koran itu tampaknya membuat sebal sang pelapak, dan dia pun berkomentar sinis, “Anak kampung kok berharap tulisannya dimuat koran Jakarta. Mimpi kali ya!”

Aku sempat putus asa dan merasa tak punya bakat menjadi pengarang. Mesin ketik tua itu akhirnya aku jual lagi, dan aku belikan cat minyak serta kanvas. Aku mencoba bakatku yang lain: melukis. Berbulan-bulan melukis, dan sempat mengukuti pameran bersama serta menitipkan lukisan di sebuah galeri di Semarang, juga tak kunjung menghasilkan uang. Padahal, Bude, yang menyekolahkanku sejak SD hingga SMA, sangat berharap aku punya penghasilan untuk meringankan bebannya. Karena, Bude sudah lama menjanda, dan juga tidak punya penghasilan yang jelas.

Akhirnya aku terpaksa bekerja pada Paklek, yang punya industri rumahan membuat jam dinding. Tugasku adalah menggergaji angka-angka dari hardboard untuk ditempel pada jam dinding sebagai penunjuk waktu. Tiap Sabtu aku mendapat upah sekitar Rp 3.000,00, dan sebagian besar aku serahkan pada Bude untuk belanja. Saat-saat libur, Sabtu dan Minggu, aku pun mencoba menjadi tukang foto keliling. Berbekal kamera tua pinjaman, aku berjalan kaki dari kampung ke kampung, menawarkan jasa memotret, untuk mencari tambahan penghasilan.

Kejutan itu

Kesibukan menggergaji hardboard dan menjadi tukang foto keliling, tidak lantas membunuh rasa cintaku pada puisi. Tiap waktu senggang, terutama pada malam hari, hampir selalu terdengar panggilan dalam hati untuk menulis puisi. Tetapi, puisi-puisi itu hanya aku simpan saja dalam tulisan tangan, tidak kukirimkan lagi ke media massa, sampai pada suatu hari, kejutan itu datang….

Hari itu, Minggu sore, aku mampir ke kios koran di mulat jalan masuk ke rumah Bude. Rubrik sastra Minggu Ini, edisi minggu Harian Suara Merdeka, pertama kali aku buka, dan aku terpana: tiga puisiku terpampang di kolom puisi koran itu, dengan nama lengkapku tertera jelas di atasnya. Spontan aku berteriak gembira pada pemilik kios, “Puisiku dimuat… ini di Minggu Ini…!”

Pemilik kios koran yang pernah berkomentar sinis padaku itu hanya melirik saja, seperti tak percaya, dan sikapnya itu cukup menyurutkan kegembiraanku. Aku pun membuka rubrik sastra koran lain. Kejutan berikutnya datang: tiga puisiku juga dimuat di Mingguan Pelopor — surat kabar yang pernah menjadi “kerajaan sastra” Umbu Landu Paranggi dengan Persada Studi Klub (PSK)-nya. Kejutan berlanjut lagi: puisiku juga dimuat di mingguan Swadesi serta Shimponi, dan cerpenku terpampang di Majalah Senang.

Hari itu aku benar-benar merasa surprise dan merasa ada “tangan Tuhan” yang ikut campur. Tuhan, mungkin, tidak tega melihat hambanya, yang sejak berusia 5 tahun menjadi anak yatim serta hidup miskin ini, menjadi tukang foto keliling dan penggergaji hardboard tiap hari. Dengan cara itu, Tuhan mengingatkanku, “Hai, hambaKu, Ahmadun, kamu bisa menjadi pengarang, asal kamu mau bersungguh-sungguh dan bersabar…!”

Semangatku untuk menjadi penyair berkobar lagi. Aku mulai mengetik kembali puisi-puisi yang aku tulis tangan. Repotnya, aku tidak punya mesin ketik lagi. Sehingga, untuk mengetik puisi, sehabis shalat Isya, aku harus berjalan kaki sekitar dua kilometer ke studio Radio PTDI. Kebetulan, ada mesin ketik nganggur tiap malam dan aku punya beberapa kenalan di sana.

Begitulah, saat itu, tahun 1977. Tiap pagi hingga sore aku sibuk menggergaji angka-angka yang tertulis pada hardboard, pada malam hari aku berjalan kaki ke studio radio PTDI dan mengetik puisi serta cerpen di sana, pada Sabtu dan Minggu aku berjalan kaki menjajakan jasa foto dari kampung ke kampung. Dan, kejutan pun datang lagi. Pada suatu pagi, ketika aku sedang sibuk menggergaji angka-angka untuk jam dinding di rumah Paklek, seorang tukang pos menyodorkan selembar wesel.

Kucermati isinya. Ternyata wesel dari Minggu Ini Suara Merdeka. Tertulis angka Rp 6.000,00 sebagai honor tiga puisiku yang telah dimuat. Aku bersyukur dan bergembira luar biasa. Karena baru pertama kali itu aku menerima wesel, dan itu adalah honor pertamaku sebagai penulis. Kejutan berikutnya datang juga, karena sekitar seminggu kemudian aku menerima wesel dari majalah Senang sebagai honor cerpenku sebesar Rp 7.500,00.

Mendapat kejutan-kejutan tersebut aku makin gila menulis puisi dan sesekali cerpen. Banyak media massa cetak aku kirimi puisi bertubi-tubi, dan sesekali cerpen. Tetapi, rupanya, semua media massa cetak tidak dapat sering-sering memuat karya seseorang, karena harus bergantian dengan karya penulis lain yang jumlahnya makin banyak. Puisi dan cerpenku tidak dimuat-muat lagi, selama tiga bulan lebih. Akibatnya, keuanganku jadi kacau dan tak bisa memberi uang belanja pada Bude.

Dalam kondisi darurat seperti itu, Bude jadi merelakanku untuk menyusul ibuku yang sudah sekitar setahun pindah ke Yogya, mengikuti ayah tiriku yang bekerja di sebuah hotel. Sejak umur lima tahun aku ikut Bude yang tidak punya anak dan aku dianggap sebagai anaknya sendiri, tentu dengan harapan dapat menjadi sandaran masa tuanya, sehingga aku sulit meninggalkannya. Pada saat itu ada seorang petugas kesehatan yang kos di rumahnya, sehingga aku diperbolehkan menyusul ibuku ke Yogya.

Dengan pindah ke Yogya sebenarnya aku sangat berharap dapat kuliah untuk menambah wawasan sastraku. Tetapi, oleh ayah tiriku, aku malah dimasukkan ke Sapto Hoedoyo Art Gallery untuk bekerja di sana. Tiga bulan aku ditempatkan di butik batiknya di Bandara Yogya, kemudian aku dipindah ke butik barunya di Bandara Semarang. Tapi, hanya bertahan sekitar enam bulan, dan aku keluar. Aku menganggur lagi, suntuk menulis-nulis puisi lagi, dan kerap merenung-renung sendiri lagi seperti orang linglung.

Pintu makin terbuka

Pada 1979 aku kembali menyusul ibuku ke Yogya. Setelah aku merajuk pada ibu, akhirnya aku diperbolehkan masuk IKIP, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pintu masa depan terasa terbuka makin lebar. Tradisi pergaulan sastra di kampus IKIP Yogya ketika itu sedang dinamis, dan aku nimbrung saja di dalamnya. Ada dosen muda nyentrik, yang juga penyair, memotori beberapa kegiatan sastra, yakni Suminto A. Sayuti.

Suasana kehidupan sastra yang kondusif di kampus ketika itu membuatku makin bersemangat menulis dan mengirimkan karya ke berbagai media sastra. Aku terpaksa menumpang mengetik di kantor polisi, karena belum punya mesin ketik lagi. Seminggu dua kali, sehabis Isya, aku berjalan kaki ke kantor Polsek Depok, Sleman, untuk numpang mengetik puisi atau cerpen. Ini berjalan berbulan-bulan, sampai seorang siswa sekolah senirupa, Agus Salim, meminjamiku sebuah mesin ketik tua. Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan mesin ketik baru sebagai hadiah juara menulis puisi kepahlawanan yang diadakan oleh sebuah stasiun radio di Surabaya.

Rajin menyerahkan langsung karya ke beberapa redaktur sastra media massa yang terbit di Yogya membuatku mengenal baik mereka, dan tahu bagaimana mereka mengatur publikasi karya serta “memainkan” isu-isu sastra. Posisi penting mereka itu membuatku diam-diam ingin menjadi redaktur sastra. Keinginanku ini tebuka lebar, ketika seorang kawan sedaerah (Kendal), Thoha Masruh Abdillah, pada tahun 1983, mengajakku menjadi wartawan Harian Kedaulatan Rakyat (KR). Dia langsung membawaku menghadap Iman Soetrisno, pemimpin redaksi KR ketika itu, dan aku langsung diterima.

Dengan menjadi wartawan, kesibukanku bertambah sangat padat. Pagi sampai siang kuliah, dan siang sampai malam melaksanakan tugas kewartawanan. Sering aku terpaksa bolos kuliah ketika harus melaksanakan tugas liputan pada pagi atau siang hari. Sore hari aku dikejar-kejar deadline dan harus mengetik berita hasil liputan secepatnya agar dapat diturunkan hari itu juga dan dapat menemui pembaca keesokan harinya.

Namun, sesibuk apapun, saat itu aku sungguh tidak ingin kehilangan keasyikan dalam menulis puisi yang telanjur aku cintai dan mulai menampakkan hasil, menorehkan nama baik. Ke manapun pergi aku selalu membawa notes untuk menulis puisi. Aku terus menulis puisi pada tiap celah waktu, ketika di rumah, di kampus, di kantor redaksi KR, di warung makan, dan dalam perjalanan dengan bus kota.

Aku makin gila puisi setelah sering berdialog dengan penyair Ragil Suwarna Pragolapati. Puisiku terus melimpah dan menghiasi berbagai media massa dan buku-buku antologi puisi. Aku pun makin kerap diundang untuk membaca puisi, dan puncaknya adalah tampil membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM), yang ketika itu masih menjadi kiblat perkembangan kepenyairan Indonesia.

Usai diwisuda pada 1986 aku diangkat menjadi redaktur Harian KR dan dipercaya sebagai redaktur sastra. Posisi ini sangat banyak mendatangkan berkah. Eksistensiku sebagai penyair makin dipandang orang, karena aku dapat memperkuatnya dengan esai-esai sastra yang mucul dalam kolom di halaman sastra KR. Ditambah lagi, esai sastraku juga makin sering dimuat di sejumlah surat kabar nasional.

Pada tahun 1989 aku hijrah ke Yogya Post dan tahun 1993 hijar ke Majalah Sarinah, lalu hijrah ke Harian Republika. Lagi-lagi aku dipercaya menjadi redaktur sastra. Dalam posisi inilah aku menjadi leluasa mengatur publikasi (pemuatan) puisi, cerpen, dan esai sendiri, serta karya-karya orang lain yang perlu diberi ruang untuk tumbuh. Jangkauan peredaran Republika yang luas membuatku makin dikenal secara luas pula. Dari sini kemudian aku juga aktif di beberapa komunitas sastra, kerap diundang mengisi berbagai seminar dan kongres, serta membaca puisi di berbagai panggung sastra, di dalam maupun di luar negeri.

Jalan religius

Bekerja di surat kabar, ditambah berbagai aktivitas lain, membuat kegiatanku menjadi sangat padat, jauh lebih padat dibanding ketika masih bekerja di Yogya. Hampir tidak ada waktu lagi untuk merenung. Yang lebih banyak menyedot waktu adalah rapat, teror deadline, liput sana liput sini, bicara sana bicara sini, ngumpul sana ngumpul sini, dan kemacetan yang menyita waktu tiap hari. Puisi makin sulit lahir dari penaku. Tanganku baru dapat digerakkan untuk menulis puisi justru ketika sedang mengikuti kegiatan di luar kota dan dalam perjalanan jauh di dalam pesawat maupun bus antarkota.

Karena kekurangan waktu untuk merenung, sementara otak lebih banyak diteror oleh peristiwa, fakta, dan deadline, tema-tema puisi yang berhasil aku tulis pun cenderung terseret ke permukaan. Lebih banyak puisi kritik sosial, dan puisi catatan perjalanan, dari pada puisi-puisi religius era “Sembahyang Rumputan”.

Meskipun begitu, aku tetap berusaha memberikan sentuhan religiusitas pada puisi-puisi tersebut, mencoba keluar dari jebakan banjir fakta dan peristiwa, serta mencoba berkelit dari imaji-imaji profan, untuk meraih kebeningan jiwa, guna memberi ruang bagi kehadiran imaji-imaji religius yang dalam.

Seprofan apapun kehidupan yang mencoba menyeretku ke dalamnya, jalan religius tetap menjadi pilihan yang aku rambah dalam menjalani proses kepenyairan sejak awal. Dalam tarik-menarik ini, puisi sosial-religius lebih banyak aku lahirkan selama berproses di Jakarta. Hanya sesekali, ketika shalat malamku sampai pada keheningan yang paling dalam, bersitan ungkapan-ungkapan sufistik muncul, dan aku segera mengabadikannya menjadi sajak-sajak religius-sufistik yang lebih dalam.

Tiap pengalaman religius yang mengesankan, baik pengalaman inderawi maupun rokhani, selalu merangsang proses kelahiran bayi unik bernama puisi. Religiusitas tidak hanya inspiratif, tapi juga indah. Dan, begitulah penjelajahan kreatifku setiap bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman religius. Atau sebaliknya, ketika sebuah pergulatan religius menemukan momentum-momentum puitik yang begitu kuat menyentuh rasa keindahanku. Hasilnya, adalah imaji-imaji puitik yang sering terangkai begitu saja dalam kata-kata puitis yang terasa indah.

Dari pergulatan kreatif seperti itulah sebagian besar sajak-sajak religiusku lahir, baik yang terkumpul dalam Sembahyang Rumputan, Ciuman Pertama untuk Tuhan, Dari Negeri Daun Gugur, Sang Matahari, Sajak Penari, dan Fragmen-Fragmen Kekalahan, maupun yang tercecer di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri. Sepanjang perjalanan kepenyairanku, menulis sajak akhirnya adalah bagian dari ibadah kreatif, sebagai bentuk persembahan kepada Allah, sang penguasa alam semesta.***

Pamulang, Maret 2016 | Tulisan ini dikutip dari Jurnal Sastra dan Bahasa SembahyangRumputan.com

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>