Dewan Kesenian Bukan Bawahan Pemerintah

DEPOK- Kalangan birokrasi dinilai masih sering keliru memahami Dewan Kesenian. Itu sebabnya hubungan birokrasi dan dewan keseniani belum harmonis. Sebagian kalangan birokrasi melihat Dewan Kesenian sebagai pelaksana kegiatan yang dirancang oleh dinas kebudayaan. Padahal posisi dewan kesenian sejajar dengan birokrasi. Jadi Dewan kesenian bukan bawahan pemerintah.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi diskusi budaya tentang posisi dewan kesenian di Warung Betawi Ngoempoel di Depok, Sabtu, 14 Mei 2016. “Dewan kesenian adalah mitra pemerintah,” kata Sekretaris Jenderal Dewan Kesenian Depok, Puguh Waruju, dalam diskusi itu. “Dewan kesenian itu wadah berpikir merumuskan kajian yang dapat menjadi inspirasi dan masukan pada kebijakan pemerintah. Bukan mendapatkan jatah pementasan dan melaksanakan program Dinas Kebudayaan,” ujarnya lagi.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno. Ia menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya, yakni Dewan Kesenian, dibentuk untuk menjadi penasihat gubernur dalam kebijakan-kebijakan kesenian dan kebudayaan. Ia menjelaskan pula bahwa Dewan Kesenian Jakarta dibentuk pada 1968 oleh komunitas seniman pada era Gubernur Ali Sadikin. “Anggota Dewan Kesenian dipilih oleh Akademi Jakarta,” ujarnya.

Menurut Irawan, Akademi Jakarta diisi oleh orang-orang yang punya kapasitas dan wibawa, dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan seniman dan budayawan hingga intelektual. Untuk melaksanakan kegiatan, DKJ memiliki pelaksana teknis yang personil-personilnya dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Adapun program dan kebijakan sepenuhnya ada di DKJ. Sementara anggaranya dari Pemerintah Derah DKI.

Selain Puguh dan Irawan, diskusi yang dipandu penyair Mustafa Ismail itu juga menampilkan pembicara dari Dinas Pemuda, Olahraga, Parawisata dan Budaya Kota Depok dan Ketua Komisi D DPRD Depok, Lahudin Abdullah. Lahudin yang memimpin komisi bidang pendidikan dan kebudayaan itu mengatakan siap mendukung penganggaran Dewan Kesenian Depok. “Silakan diajukan lewat Dispora, nanti akan disetujui. Terpenting kegiatan itu berguna bagi masyarakat dan seni budaya,” ujarnya.

Diskusi berlangsung hangat dan seru. Salah satu penanggap, Ace Sumanta, mengeluhkan birokrasi yang dinilai terlalu turut campur dalam urusan dewan kesenian. Ia mencontohkan dirinya yang terpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Bogor tahun lalu namun hingga sekarang belum dikukuhkan oleh pemerintah daerah setempat. “Sampai sekarang belum dilantik,” ujarnya.

Adapun Andi Suandi, penanggap lain, mengusulkan agar diadakan pertemuan para pengurus dewan kesenian untuk merumuskan strategi dalam menghadapi birokrasi agar ada pemikiran yang sama antar kedua pihak itu. “Perlu ada pertemuan antar dewan kesenian untuk membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi para pengurus dewan kesenian di berbagai daerah,” tutur Sekjen Dewan Kesenian Tangerang Selatan itu.

Menanggapi hal itu, Dewan Kesenian Depok menyatakan siap untuk menjadi tuan rumah. “Kami siap,” kata Ketua Harian Dewan Kesenian Depok Asrizal Nur. Sementara Irawan Karseno menginformasikan bahwa pihaknya sedang menginisiasi Forum Komunikasi Dewan Kesenian Daerah. Namun, menurut dia, forum itu baru menampung para pengurus dewan kesenian provinsi. “Sudah ada 24 dewan kesenian provinsi yang bergabung,” ujarnya.

Diskusi itu adalah bagian dari Gelar Budaya dalam rangka ulang tahun Kota Depok ke-17. Perayaan itu melibatkan puluhan seniman dari berbagai bidang seni. Sejumlah acara digelar seperti pameran lukisan, baca puisi, tari, musik tradisi, lenong, silat, pameran kuliner, bazar buku, aneka lomba, wayang, dan pidato budaya oleh Maman S Mahayana.

Ada pula sesi perkenalan pengurus Dewan Kesenian Depok. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Dewan Kesenian Depok H. Nuroji menegaskan komitmen para seniman yang terlibat sebagai anggota dan pengurus dewan kesenian untuk semata-mata berbuat untuk memajukan kesenian dan kebudayaan. “Kami tidak untuk mencari anggaran dari pemerintah. Tanpa anggaran dari pemerintah pun kami tetap bisa jalan,” ujarnya Nuroji berapi-api.

Adapun kritikus sastra dan akademisi Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, dalam orasi budayanya mengatakan bahwa di Depok memiliki aset seni dan budaya, termasuk seniman, yang luar biasa. Di sini ada sejumlah universitas ternama, salah salah satunya Universitas Indonesia. Di Depok banyak seniman, yang selama ini lebih sering mewakili Jakarta dan Indonesia di forum-forum kesenian, bukan mewakili Depok. “Nama Depok seolah-olah tanggal dan dimasukkan saku celana.” [R]

Comments

Leave a Comment