Kritik Sastra Bukanlah Pencincangan

OLEH: MAMAN S MAHAYANA, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Ada peribahasa yang bunyinya begini: “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Makna peribahasa itu, tidak berlaku dalam kritik sastra. Kritik sastra praktis (konkret) adalah salah satu bentuk apresiasi pada sebuah karya. Maka, pemahaman yang lengkap atas sebuah teks perlu menjadi semangat yang melandasi kritik itu dilakukan. Jadi, eloklah seorang kritikus tidak mencomot sebagian dari teks sastra itu yang lalu diperlakukan sebagai keseluruhan.
Katakanlah sebuah teks itu sosok gadis yang cantik. Kecantikannya itu dibangun lewat proporsi semua anggota tubuh yang mendukungnya. Meski begitu, jika ternyata diketahui, bahwa kuping si gadis itu rompal sedikit, cacatnya kuping itu tidak mesti menghancurkan keseluruhan kecantikannya. Kita seyogyanya memperlakukannya secara proporsional. Bukan lantaran ada kuping yang rompal kita menghancurkan kecantikannya, tetapi ada kesadaran, bahwa ternyata, kecantikannya menyimpan ketidaksempurnaan, yaitu kupingnya yang rompal itu. Jadi, tetap saja gadis itu tampil dengan segala kecantikannya, meski kita tahu, kupingnya rompal sedikit.
Begitulah, melihat sebuah teks sastra, tidak dilakukan secara bagian per bagian, tetapi menempatkannya sebagai bagian yang membentuk keseluruhan. Cara pandang itulah yang disarankan Arief Budiman dan Goenawan Mohammad lewat kritik gestalt yang menekankan metode ganzheit. Pandangan itu dimaksudkan sebagai penolakan atas model analisis kritik akademik Aliran Rawamangun. Bagi Arief Budiman, Metode Kritik Ganzheit merupakan suatu proses partisipasi aktif dari sang kritiskus terhadap karya seni yang dihadapinya. Dalam hal ini, hubungan atara kritikus dan karya seni melahirkan pertemuan dialogis. Berdasarkan pengalaman estetik terhadap karya seni, kritikus mengungkapkan pengalamannya itu. Lahirlah sebuah kritik seni (lihat Arief Budiman, “Metode Ganzheit dalam Kritik Seni,” Horison, April 1968). Intinya, kritikus tidak menempatkan diri sebagai dokter bedah yang melakukan pencincangan. Kritikus mesti menyadari bahwa yang dihadapinya adalah karya seni. Bukan linguistik, bukan matematika, bukan pula sebuah teori tentang sastra. Ia karya sastra, karya seni!
Pendekatan struktural substansinya juga memperlakukan fungsi setiap unsur dalam hubungannya dengan unsur lain. Satu unsur apa pun, tidak berdiri sendiri terlepas dari unsur lain. Selalu ia dikaitkan dengan unsur lainnya yang saling melengkapi secara fungsional, sehingga terbangun sebuah sruktur. Sebutlah struktur sebuah rumah. Ia dikatakan sebagai rumah, lantaran di sana ada jendela, pintu, atap-genteng, tembok pembentuk ruangan, dan seterusnya. Jendela tidak dapat menggantikan fungsi sebuah pintu atau sebaliknya. Tetapi, ia dikatakan jendela, lantaran ada pintu, kamar, dan seterusnya. Maka, melihat fungsi jendela, tidak dapat dilepaskan begitu saja dari fungsi pintu, genteng, tembok, dan seterusnya yang masing-masing berada pada tempatnya. Pintu dikatakan sebagai pintu dan berfungsi sebagai pintu, karena memang di situ tempatnya, tidak coba menggantikan tempat jendela, genteng atau tembok pembatas ruangan.
Dalam kehidupan sosial, individu sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, tidak dapat melepaskan dirinya dari apa yang disebut status dan peran. Di dalam diri setiap individu melekat berbagai status: anak-ayah, suami-istri, murid-guru, dan seterusnya. Seorang guru memainkan peranannya di dalam kelas, dan bukan dalam statusnya sebagai suami atau istri. Jadi status dan peran itu hanya fungsional jika sesuai dengan tempatnya dan memainkan fungsi sesuai dengan statusnya. Begitulah para pakar sosiologi mengingatkan kita tentang perkara status dan peran.
Dalam kaitannya dengan karya sastra, dengan pemahaman itu, setiap karya apa pun, akan ditelisik secara holistik, lengkap, menyeluruh. Maka, analisis novel atau ragam sastra mana pun, tidak dilakukan dengan mencomot tokoh atau latar untuk menilai keseluruhan. Unsur itu mesti diperlakukan secara fungsional dalam kaitannya dengan unsur lain. Bukankah salah satu unsur itu, tokoh misalnya, dapat menyembulkan fungsinya ketika di sana ada unsur lain (latar, tema dan seterusnya) yang mendukungnya. Hal yang sama tentu saja berlaku dalam analisis drama dan puisi. Puisi yang dibangun oleh sejumlah bait dan bait yang disusun oleh larik-larik, tidak seyogianya diperlakukan sebagai bagian-bagian yang terpisah-pisah. Unsur-unsur larik dan bait itu, hadir sebagai keseluruhan puisi. Maka pembicaraan satu larik dalam sebuah bait, mesti ditempatkan dalam konteks keseluruhan unsur yang membangun puisi yang bersangkutan.
Sekadar contoh, perhatikan puisi haiku berikut ini:
Katak melompat
Plung!
Onomatope /Plung!/ tidak dapat dipisahkan dari larik sebelumnya: katak melompat// Dengan begitu, asosiasi kita menjadi lebih hidup lantaran larik: katak melompat membawa kita pada sawah, sungai, danau, sumur, dan seterusnya yang berkaitan dengan genangan air. Tetapi akan lain persoalannya jika larik /katak melompat/ diganti dengan /nongkrong di kloset//. Segala citraan /Plung!/ pada kata melompat, seketika jadi berubah. /Plung!/ dalam /nongkrong di kloset/ menghadirkan asosiasi lain, menciptakan makna lain!
Begitulah analisis puisi seyogianya tidak berkutat pada satu kata atau larik tertentu dan menceraikannya dengan kata, larik atau bait yang membangunnya. Makna sebuah karya (teks) sastra, apa pun ragamnya, terletak pada keseluruhan unsur yang membentuknya. Oleh karena itu, mencomot satu unsur lalu menganalisisnya sebagai makna keseluruhan karya itu, selain tidak adil, tidak proporsional, juga dapat dipandang bertindak kejam, sebab ia melakukan mutilasi pada sebuah karya seni yang mesti dipandang secara holistik, menyeluruh, dan utuh sebagai karya seni!
Kritik sastra bukanlah pembedahan sebuah karya (teks) secara anatomistik. Bukan penguraian elemen-elemen yang dibiarkan berantakan begitu saja. Elemen-elemen itu mesti ditempatkan dalam keseluruhan teks. Dengan begitu, salah satu unsur karya sastra, tidak terlepas dari unsur lainnya. Perlu ditegaskan lagi: setiap unsur itu hadir sebagai keseluruhan. Dan kritik sastra mesti memandangnya dalam keseluruhan, secara holistik, lengkap dan komprehensif.
***
Kegiatan kritik sastra selalu berada di belakang penciptaan karya sastra. Lebih tegas lagi dapat dikatakan, lahirnya kritik sastra, karena ada karya sastra. Tanpa karya sastra, mustahil muncul kritik sastra—meskipun kini berkembang kritik teoretik. Oleh karena itu, para sastrawanlah –pencipta karya sastra— yang sesungguhnya ‘menciptakan lapangan kerja’ bagi kritikus. Jadi, wahai kritikus, atau siapa pun yang mengakui sebagai kritikus, berterima kasihlah kepada sastrawan. Tanpa sastrawan, kritikus akan jadi pengangguran. Oleh karena itu, tugas kritikus adalah membongkar kekayaan teks (sastra) sebagai bentuk apresiasi terhadapnya. Jika ada karya (sastra) yang dipandang tak layak ditempatkan sebagai karya sastra (yang baik), biarkanlah ia hidup membawa jalannya sendiri. Tokh, setiap karya (sastra) selalu akan menggelinding membawa nasibnya sendiri!

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>