Buku Puisi “Aceh 5:03 6,4 SR” Diluncurkan di Padangpanjang

Buku Antologi Penyair Nusantara yang berlebel “Aceh 5:03 6,4 SR” akan diluncurkan di Ruang Audio Visual Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, 7 Mei 2017. Buku puisi yang merespon gempa Aceh pada Desember 2016 itu digagas oleh Komunitas Kuflet, Padangpanjang.

Ini adalah buku puisi kedua tentang gempa Pidie Jaya. Sebelumnya, pada 20 Januari 2017, di Jakarta telah diluncurkan pula puisi karya penyair Nusantara yang juga berbicara tentang gempa Pidie Jaya berjudul “6,5SR Luka Pidie Jaya”.

Saniman Andikafri, Ketua Panitia, mengatakan hadirnya buku antologi puisi ini berawal dari kegiatan sosial anggota Komunitas Seni Kuflet dalam membantu proses penggalangan dana untuk musibah gempa Pidie Jaya. “Seluruh hasil penjualan buku ini juga didonasikan kepada korban gempa Pidie Jaya,” ujar Saniman.

Penyair yang turut menyumbangkan karya buat bencana tersebut berjumlah 127 penyair yang berasal dari Indonesia dan beberapa Negara tetangga. Mereka antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Budhi Setyawan, Djazlam Zainal, Iyut Fitra, Jumari HS, LK Ara, Mohd Adid Abd Rahman, Mustafa Ismail, Sulaiman Tripa, Syarifuddin Arifin, Teuku Ahmad Dadek, dan lain-lain. Buku ini dikuratori oleh Sulaiman Juned, Salman Yoga dan Muhammad Subhan dan diterbitkan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang bekerja sama dengan FAM Indonesia.

Peluncuran buku ini akan diisi bedah buku dengan pembicara Dr. Sahrul N dan Dr. Sulaiman Juned, keduanya dosen Seni Teater ISI Padangpanjang, dan dimoderatori Muhammad Subhan. Peluncuran pertama ini akan dihadiri penyair dari Indonesia, Malaysia dan Jerman.

Muhammad Subhan, pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Buku ini memang tidak dapat menyembuhkan luka. “Namun setidaknya dapat menjadi doa dan kenangan bahwa kita perlu bangkit dari keterpurukan,” tuturnya. “Saya memiliki hubungan emosional dengan Pidie, sebab almarhum ayah saya berasal dari kabupaten ini. Duka yang dialami masyarakat Pidie pascagempa adalah bagian duka saya pula,” tutur penulis Novel Rumah di Tengah Sawah tersebut.

Sulaiman Juned, salah seorang kurator mengatakan, “Penyair selalu saja berekspresi dalam menyuarakan sedih, senang, bahagia, rindu termasuk duka. Puisi Aceh 5:03 6,4 SR merupakan bentuk kepedulian penyair terhadap kedukaan yang terjadi akibat bencana. Peristiwa gempa Pidie Jaya tentu membuat penyair berkontemplasi dengan ruang bencana. Namun tetap saja menjaga nilai-nilai puitikal dalam sebuah puisi. Ini juga bukti bahwa penyair memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya,” kata Penyair yang juga sutradara teater ini.

Fiqkri Aprija, Ketua Komunitas Seni Kuflet mengatakan, buku antologi puisi ini merupakan buku ke-10 yang diterbitkan Kuflet. “Setelah buku ini diluncurkan, Kuflet berencana menerbitkan kembali buku antologi puisi khusus buat anggota kuflet baik yang masih aktif maupun yang telah menjadi alumni kuflet,” ucap sutradara teater itu.
[R | MI]

Comments

Leave a Comment

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>