Festival Sastra Bengkulu, Pesona Pantai Panjang Hingga Kepahiyang

Festival Sastra Bengkulu telah usai. Acara itu digelar di Bengkulu, 13-15 Juli 2018. Acara dibuka oleh Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah. Acara ini diadakan Imaji Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu dan didukung oleh Bank Bengkulu dan Djarum Foundation serta sejumlah komunitas sastra dan budaya.

>Pembukaan ditandai dengan pemukulan dol – alat musik perkusi khas Bengkulu – oleh Gubernur, Ketua Panitia Festival Willy Ana, penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Rektor…. . Acara dilanjutkan dengan penyerahan buku puisi “Jejak Cinta di Bumi Raflesia” oleh perwakilan kurator, Mustafa Ismail, kepada PLT Gubernur. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam diiringi oleh musik dengan lagu-lagu khas provinsi itu.

Plt Gubernur Bengkulu mengatakan bahwa Provinsi Bengkulu adalah satu daerah yang menyimpan banyak sejarah. engkulu menjadi lebih bersejarah saat Presiden pertam RI, Soekarno diasingkan ke bumi Raflesia hingga akhirnya mempersunting gadis Bengkulu yakni Fatmawati, yang kemudian menjadi pula ibu negara partama Indonesia. “Ibu negara pertama ini dikenal sebagai penjahit bendera pusaka,” kata Gubernur saat membuka acara FSB 2018.

Rohidin mengapresiasi kerja keras panitia festival karena memiliki semangat egaliter dan motivasi tinggi hingga kegiatan bertaraf nasional tersebut sukses membawa para penyair dari seluruh Indonesia dan negara tetangga. “Tanpa itu, bagaimana mungkin FSB ini bisa terlaksana dengan waktu persiapan yang tak panjang dan anggaran yang terbatas pula,” katanya.

Acara itu dihadiri para penyair Indonesia dan luar negeri, di antaranya Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, LK Ara, Fakhrunnas MA Jabbar, Zulfaisal Putra, Rohani Din (Singapura), Isbedy Stiawan ZS, Anwar Putra Bayu, Mezra E. Pellondou, J Kamal Farza, Tulus Wijanarko, Zaim Rofiqi, Jumari HS, Bambang Widiatmoko, Pilo Poly, Siwi Widjayanti, Muhammad Subhan, Husnu Abadi, Mukti Sutarman, dan lain-lain. Malam pembukaan diwarnai dengan pembacaan puisi sejumlah penyair, salah satunya Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Colzum Bahri, yang membacakan sejumlah puisi, antara lain berjudul “Wahai Pemuda Mana Telurmu”.

Dalam laporannya, Ketua Panitia FSB, Willy Ana, menjelaskan bahwa festival diadakan bermodal semangat. Pertama, semangat bersastra dan terus menghidupkan sastra di bumi pertiwi dengan cara kami yang kami bisa. Kedua, semangat untuk menggelar sebuah festival sastra bertaraf nasional di Bengkulu. Ketiga, semangat untuk merekam jejak Presiden RI pertama, Sukarno, bersama Ibu Fatmawati, di Bengkulu. “Maka itu festival ini kami berisi tema “Sukarno, Cinta dan Sastra”,” ujar penyair asal Bengkulu yang berdomisili di Jakarta itu.

Ada pula diskusi dengan pembicara Ahmadun Yosi Herfanda, Sutardji, dan FX Rudy Gunawan. Rudy Gunawan, sastrawan yang juga tenaga ahli di Kantor Staf Kepresidenan, menjelaskan Soekarno dan literasi adalah satu kesatuan. Sebab untuk menyampaikan kegelisahan, Soekarno menuangkan segala bentuk pergolakan hatinya itu dengan menulis. “Sejak muda Soekarno bergelut dengan buku. Itu dilakukan untuk memahami realitas kehidupan bangsanya. Soekarno juga menulis apa saja mulai surat cinta, naskah drama, dan kajian ideologi,” ujar Rudy.

Adapun Ahmadun mengatakan tema besar yang diangkat Panitia Festival itu, yakni tentang Sukarno, sangat menarik. Tema itu mampu merekam jejak penting Bung Karno di Bengkulu. “Tema itu pula yang menjadi kriteria utama tim kurator dalam memilih puisi-puisi untuk buku antologi,” kata dia.

Peserta juga diajak berwisata ke sejumlah tempat penting di Bengkulu, seperti Pantai Panjang, Benteng Malboroght, rumah Sukarno, rumah Fatmawati dan sentra oleh-oleh dan kerajinan khas Bengkulu. Festival Sastra Bengkulu diakhiri dengan wisata budaya ke kebun teh Kepahiyang, sebuah dataran tinggi di Bengkulu.

Di panggung yang didirikan di sebuah lapangan di tengah kebun teh, para sastrawan kembali membaca puisi, termasuk ketua panitia acara itu, Willy Ana, para kurator yakni Mustafa Ismail, Iwan Kurniawan dan Ahmadun Yosi Herfanda, tak lupa Sutardji Calzoum Bachri, serta sejumlah penyair lain seperti J Kamal Farza, Siwi Widjayanti, Zaim Rofiqi, dan lain-lain. Bahkan, Bupati Kepayiang Hidayatullah Sjahid, juga ikut membaca puisi di sana. Bupati selain menutup Festival Sastra Bengkulu, juga menjamu makan siang para penyair.

Yang sangat memukau adalah pertunjukan musik dol oleh siswa SD, SMP dan SMA/SMK yang digarap Benny dan Edy Subagya, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepahiyang, yang juga seniman musik. Acara Kepahiyang digarap oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepahiyang dan Dinas Parawisata, Pemuda dan Olahraga Kepahiyang. (AGT)

Comments

Leave a Comment