Puisi-Puisi Nezar Patria

Puisi-puisi Nezar Patria ini dimuat di Kompas, Minggu, 16 Desember 2012. Info Sastra mengutip puisi ini karena sangat menarik. Sajak Malin Kundang, misalnya. Ia mencoba bermain-main dengan tafsir “liar” terhadap mitos Malin Kundang. Puisi ini mencoba menyusun imaji lain dari kisah itu: Malin Kundang tak lagi seorang anak durhaka yang menjadi batu, tapi sebuah metamoforsa “terbalik” yakni kutukan dari kupu-kupu menjadi kepompong batu.

Memang, salah satu kekuatan puisi adalah pada gagasan imajinatif. Sebuah tema yang “lusuh” dan “tua”, jika digarap dengan imaji baru, ia akan hadir dengan kesegaran baru. Kisah Malin Kundang, dalam puisi ini, misalnya, menjadi seorang “gadis cantik” di tangan Nezar. Padahal, “simbol” ini begitu sering diulang-ulang oleh banyak penyair. Dan terbukti, selalu ada yang baru yang bisa diungkapkan. Continue reading “Puisi-Puisi Nezar Patria”

Ahlu Ngeyel Wal Nekat

Oleh Anis Sholeh Ba’asyin |

Konon, setelah terlibat dalam konperensi yang alot; George W Bush, Gordon Brown, Nicolas Sarkozy dan Vladimir Putin memutuskan untuk berlibur bersama. Berburu gajah di Afrika adalah pilihannya.

Menjelang malam, pada hari pertama perburuan, seekor gajah berhasil ditangkap. Karena jauh dari pemukiman, mereka putuskan untuk mengikat gajah tersebut pada sebatang pohon dan menjaganya secara bergantian.

Giliran pertama jatuh pada Brown. Setelah dua jam berjaga, dia membangunkan Sarkozy, dan pergi tidur. Sarkozy berjaga dua jam, membangunkan Putin, kemudian tidur. Putin berjaga dua jam, membangunkan Bush, kemudian tidur. Melihat semua tidur, Bush kembali tidur.

Esok harinya, semua bangun dan kaget melihat gajah sudah tak ada di tempatnya.

“Mana gajah itu?” tanya mereka pada Bush.
“Gajah apa?” Bush balik bertanya dengan kalem.
“Apa maksudmu dengan ‘gajah apa’?” mereka mulai marah pada Bush. “Bukankah kita ke Afrika berburu gajah?”
“Betul”
“Bukankah kemarin kita berhasil menangkap seekor gajah?”
“Betul”
“Bukankah kita mengikatnya ke sebatang pohon?”
“Betul”
“Bukankah kita sepakat menjaganya bergantian?”
“Betul”
“Bukankah Brown dapat giliran pertama?”
“Betul”
“Bukankah setelah itu dia menyerahkan giliran jaga pada Sarkozy?”
“Betul”
“Bukankah Sarkozy, setelah berjaga dua jam, lantas menyerahkan gajah itu pada Putin?”
“Betul”
“Bukankah kemudian Putin menyerahkan penjagaan gajah itu pada anda?”
“Betul”
“Nah, sekarang mana gajah itu?”
“Gajah apa?”

Dalam bahasa Jawa, sikap semacam itu disebut ngeyel. Ngeyel itu keras kepala mempertahankan kesalahan. Orang yang dianggap telah melakukan kesalahan dan sudah ditunjukkan kesalahannya, tapi tetap terus berusaha mempertahankannya; itu ngeyel namanya.

Kalau tidak muncul dari ketololan, sudah pasti sikap ngeyel muncul dari beban kepentingan. Cuma, yang harus dicatat, ketololan tidak harus dihubungkan dengan tingkat pendidikan, keluasan pengetahuan dan seterusnya; tapi mungkin lebih bisa dikaitkan dengan kecerdasan emosional.

Dan, seperti kita maklumi bersama, beban kepentingan sering membuat orang -setinggi apapun tingkat pendidikannya- kehilangan kecerdasan emosionalnya, dan terjerembab dalam ketololan.

Tapi tampaknya itu belumlah semua ceritanya. Gambaran tentang Bush diatas tidak hanya mendemonstrasikan kengenyelan, tapi juga kenekatan. Setidak-tidaknya nekat atas ngeyel tanpa dasarnya. Sekedar catatan: nekat sama sekali tak identik dengan berani, karena nekat itu produk keputus-asaan, kengawuran atau kegilaan.

Sangatlah jelas bahwa menghadapi orang ngeyel kadang bisa bikin naik darah. Apalagi bila sikap ngeyel ini dikombinasikan dengan kenekatan; percayalah, ini bisa membuat orang yang sangat sabarpun terusik.

Bayangkan saja bila anda harus berhadapan dengan orang yang nalarnya seperti nalar Bush dalam anekdot diatas: Marah? Sakit hati? Atau malah terbahak-bahak?

Nah, mari kita bayangkan bagaimana lucunya kalau tokoh Bush dalam anekdot tersebut kita ganti dengan nama-nama lokal, siapapun saja terserah pilihan anda secara langsung, bebas dan rahasia. Maka? Hahahaha..!

Hari : Jumat
Tanggal: 21 Desember 2012
Pukul : 19.30 sampai selesai
Tempat: Rumah Adab Indonesia Mulia
Jalan P. Diponegoro No 94 – Pati

bersama:
Alissa Wahid
Gunawan Permadi
Anis Sholeh Ba’asyin
Didik Supardi
Konyik
Orkes Puisi Sampak GusUran

Maleman Festival
“Pati Jazz Campursari”
“Stand Up Comedy”
Jam 19.30 – 20.30

ACARA INI UNTUK UMUM DAN GRATIS!
Suluk Maleman adalah acara rutin bulanan yang diselenggarakan tiap Jum’at ketiga. Acara ini dirancang sebagai ajang untuk silaturrahim pikiran untuk mengaji masalah-masalah yang dihadapi bangsa, baik di tingkat lokal maupun nasional. Acara ini sejak awal digagas sebagai oase untuk merekatkan kembali ikatan kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan, yang selama ini cenderung cerai berai.
Kecuali dialog dan pengajian, juga akan ditampilkan pagelaran kesenian. Secara rutin Orkes Puisi Sampak GusUran akan menemani tampilan kelompok kesenian tamu yang diundang: bisa teater, monolog, baca puisi, wayang, musik, tari dls (pada dasarnya, kami menerima siapapun dan dari manapun untuk tampil di acara ini).
Bagi mereka yang bermukim di Pati dan sekitarnya, atau kebetulan berada di wilayah Pati, dipersilakan hadir. Acara ini memang dirancang untuk umum dan gratis. [SUMBER INFO: FACEBOOK)

Sayembara Esai Sastra Boemipoetra

Djoernal sastra terpenting boemipoetra mengadaken lomba penoelisan essai boekoe djoernal sastra boemipoetra terboeka oentoek oemoem.

ketentoean:

1- naskah diketik 1,5 spasi. jenis font times newroman. minimal 6.000 karakter. halaman letter.
2- itoe naskah dikirim paling lambat 30 april 2013 ke email: ruangplus@gmail.com
3- 50 essai pilihan akan diboekoeken dan 50 peserta essai pilihan akan mendapatken itoe boekoe essai boekoe djoernal sastra boemipoetra. 5 (lima) essai terbaik akan mendapatken oeang masing-masing Rp1.000.000 ditambah piagam.
4- panitia berhak mempoeblikasiken 50 essai pilihan.

Oentoek mendapatken itoe boekoe djoernal sastra boemipoetra hoeboengi :
– gito waluyo
08567870711
– saut situmorang
0816683770
– kusprihyanto namma
085790217124
– irwan bajang
085725067077
– iwan gunadi
081286078246

Ini Dia Pemenang Lomba Cipta Puisi Esai

Lomba menulis puisi-esai Hadiah Puisi Esai Denny JA telah diumumkan. Pemenang lomba berhadiah total 50 juta itu adalah “Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi Huizche sebagai juara pertama. Juara kedua jatuh untuk puis berjudul “Interegnum” karya Beni Setia dan juara ketiga adalah “Syair 1001 indonesia” karya Saifur Rohman. Dewan juri final yang terdiri dari Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, dan Jamal D. Rahman juga 10 pemenang hiburan berdasarkan mutu karya.

Sepuluh pemenang hiburan, seperti diposting di situs puisi-esai adalah Arief Setiawan dengan karya berjudul “Ngati”, Arif Fitra Kurniawan (Bukan Lagi Rahasia Kita Raisa), Catur Adi Wicaksono (Jejak Cinta Madun Di Kota Sampit), Hanna Fransisca (Singkawang Petang), Jenar Aribowo (Suara Suara Ingatan), Katherine Ahmad (Dalam Belenggu Dua Dunia), Kedung Darma Romansha (Rangin), Rahmad Agus Supartono (Dia, Sangkarib dan Sekarung Kapas), Wendoko (Telepon), dan Yustinus Sapto hardjanto (Ziarah Tanpa Ujung).

Selain itu, juri juga memilih 12 Puisi Esai Menarik yakni karya Alexander Robert, Baiq Ratna Mulyaningsih, Carolina Betty, Chairunnisan, Damhuri Muhammad, Huzer Apriansyah, Nur Faini, Onik Sam Nurmalaya, Sahasra Sahasika, Sifa Amori, Stefanus P. Elu, dan Yudith Rosida. “Keduabelas puisi esai ini dipilih karena daya tarik permasalahan yang diangkatnya sebagai puisi esai, meski karya mereka belum mencapai keutuhan sebagai sebuah karya yang solid,” tulis dewan juri dalam catatan pertanggungjawabannya.

Penjurian lomba ini terdiri dari dua tahap. Juri tahap pertama adalah Ahmad Gaus, Jonminofri, Elza Peldi Taher, dan Fatin Hamama. Mereka memeriksa 429 puisi esai yang masuk dengan kriteria: adanya plot, konflik, catatan kaki, keutuhan sebagai sebuah sajak panjang. Menurut juri, sajak panjang berupa kumpulan beberapa sajak dengan judul berbeda-beda dan tidak memiliki keutuhan sebagai satu puisi esai tidak lolos ke seleksi selanjutnya. Begitu pula puisi yang tema dan panjangnya relatif memenuhi kriteria puisi esai namun tidak disertai catatan kaki, juga tidak lolos ke babak selanjutnya. “Karena beberapa fakta di sana tidak dapat dirujuk pada sumber yang adekuat,” ujarnya.

Hasil seleksi oleh juri tahap awal lalu diserahkan ke juri final. Maka terpilihlah “Mata Luka Sengkon Karta” yang mengangkat permasalahan hukum dan peradilan kasus Sengkon Karta. Menurut juri, puisi esai ini dipilih karena keutuhan, kelincahan bahasa, alur yang kuat, dan riset yang mendalam atas subjek yang ditulisnya. Penggarapannya cukup detil, diksi-diksinya pun segar. “Penulis mampu membuat kasus lama ini hidup kembali untuk diperhadapkan dengan situasi hukum dan peradilan di masa kini.”

Adapun “Interegnum” karya Beni Setia, dengan bersih dan padu, kisah lama yang diambil dari sejarah dan cerita rakyat ini dibangun tahap demi tahap secara hati-hati hingga terbangun gambaran peristiwa di Palangan Mejayan masa silam. Dalam bentuk yang rapi tersebut, plot, konflik dan penokohannya dibiarkan tidak tajam dan digantikan dengan suasana-suasana dalam gambaran yang terkendali. Sementara “Syair 1001 Indonesia” mengangkat kasus hukum dan korupsi yang menjadi berita hangat berbagai media massa belakangan ini. Dalam “Syair 1001 Indonesia” terjadi fiksionalisasi atas fakta, dan terkadang juga faktanisasi atas fiksi. Fakta dan fiksi terus-menerus dipermainkan. [R]

"Payudara" Dibedah di Bandung

Pengajian Sastra #49 akan membedah buku “Payudara: Kisah Perempuan-perempuan yang dimarginalkan” karya Skylashtar Maryam.

Waktu : Minggu, 16 Desembe 2012
Pukul : 19.00
Tempat : Kebun Seni Tamansari, Tamansari 69
(area parkir 3 Kebun Binatang)
Bandung

Pembahas : Tandi Skober

Sekilas tentang buku:
Anatomi tubuh yang pertama kali dikenal oleh manusia, baik lelaki maupun perempuan, adalah payudara. Rengekan, teriakan, tangisan, gundah, resah, semuanya tersembuhkan oleh satu hal; payudara. Selain bagian dari anatomi tubuh, payudara adalah simbol keterhubungan antara seorang anak dengan ibunya. Seorang manusia terhadap perempuan; sumber kehidupan.

Dua puluh tujuh cerita tentang perempuan (si pemilik payudara) disajikan dengan keberagaman rasa, nada, dan warna. Itu sebabnya mengapa kumpulan cerita ini layak Anda baca, sebab seluruh cerita di dalamnya begitu lekat, begitu erat. Buku ini tidak menjejalkan hikmah atau petunjuk langkah. Buku ini melemparkan cermin ke pangkuan Anda dan mengajak berkaca bersama. Selamat menyelam, silakan tenggelam. [Dikutip dari web penerbitnya]

Buku Puisi Pelangi Sastra Malang

Launching Buku Puisi: “SULFATARA: Pelangi Sastra Malang Dalam Puisi” diadakan pada:

Hari : Minggu, 16 Desember 2012
Pukul : 19.00 – Selesai
Tempat : Art Rock Cafe (Jl. Keramik Dinoyo)

Bersama: Afif Afandi, Andi Wirambara, Bahauddin, Denny Mizhar, Felix Nesi, Husen Arifin, Elyda K. Rara, Royyan Julian, Johan Wahyudi, Kholid Amrullah, Lyla Nur Ratri, Masaly, Imam Muklis Basori, Naila Ali, Noval Jubbek, Widiantiwidianti.

Menampilkan: SWARA, Charles Djalu, Joni Wakijo, UKM Komunitas Teater UMM, Hans (Teater Hom Pim Pah FEB UMM), dll.

Buku SULFATARA bisa didapatkan dengan menghubungi Denny Mizhar (0858 5518 6629) dan Arie Triaangga Sari (0858 1513 0662) atau ke masing-masing penulis. Harga : Rp. 35.000,- (Luar Malang + ongkos kirim). Dapat pula dibeli saat acara peluncuran berlangsung.

Pemenang Lomba Novel DKJ 2012: Andina Dwifatma

Andina Dwifatma berhasil menjadi pemenang utama Sayembara Novel DKJ 2012 dengan naskah berjudul “Semusim (dan Semusim Lagi)”. Pengumuman pemenang dilakukan dalam kegiatan bertajuk Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2012 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam, 14 Desember 2012. Andina ketika ditanya InfoSastra lewat akun twitternya novel itu bercerita tentang apa, ia hanya berkomentar pendek: “(maunya sih) tentang eksistensialisme.”

Andina Dian Dwifatma, begitu nama lengkapnya, lahir di Jakarta pada 15 September 1986. Sehari-hari, ia bekerja sebagai wartawan di Majalah Fortune. Ia menghabiskan masa kecilnya di Jakarta dan Ternate. Lalu ia pindah ke Semarang dan kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro dan ditamatkannya pada 2009. Selama kuliah, ia rajin menulis kolom mingguan di harian Suara Merdeka. Andina salah seorang penulis novel Lenka, yang memang ditulis secara keroyokan dan terbit pada 2011. Ia juga penulis buku Cerita Azra (2011), biografi Azyumardi Azra.

Selain pemenang utama, Dewan Juri yang terdiri dari Helvy Tiana Rosa, Manneke Budiman dan AS Laksana juga memilih empat juara unggulan. Naskah yang terpilih sebagai karya unggulan itu adalah “Kei” (Erni Aladjai), “Simpul Waktu” (Sulfiza Ariska), “Dasamuka” (Junaedi Setiyono) dan Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” (Ni Putu Dewi Kharisma Michellia). Continue reading “Pemenang Lomba Novel DKJ 2012: Andina Dwifatma”

Temu Pengarang Warnai Anugerah Novel DKJ

Diskusi dan Temu Pengarang dengan tema “Pengaruh sayembara novel DKJ bagi perkembangan Sastra Indonesia” akan digelar sore ini, Jumat, 14 Desember 2012 pukul 15.00-17.00 WIB di Loby Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Temu Pengarang yang merupakan bagian dari Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2012 itu menghadirkan pembicara Anton Kurnia, A.S. Laksana dan Abidah el Khalieqy.

Selain temu pengarang, menurut Ratu Selvi Agnesia, Humas Dewan Kesenian Jakarta, dalam rilis yang diterima Info Sastra, juga diadakan Pameran Sejarah Sayembara Novel DKJ sejak 1974. Adapun pengumuman pemenang diadakan pada Jumat malam 19.30. Kini, Dewan Juri yang terdiri Helvy Tiana Rosa, Manneke Budiman dan AS Laksana telah memilih 20 novel nominasi dari sekitar sekitar 300 naskah novel. Dari 20 unggulan, juri akan memilih satu novel terbaik dan empat novel unggulan. Continue reading “Temu Pengarang Warnai Anugerah Novel DKJ”