Hujan Emas

Hujan Emas

Cerita Mini : Saiful Bahri  | Ahuuuiii….pada akhirnya hujan emas ketiban jua menyiram kampung kami, setelah lelah melapuk diganyang hujan badai, hujan pelor, hujan darah, hujan mayat, yang menderaikan linang pedih air mata bermasa-masa. Namun, pada ujung-ujungnya nikmat jua yang terdekap, hujan emas pula yang menyekap. Kami masih ingat betul masa-masa itu, masa-masa sebelum bersiram hujan emas. Sungguh sempit, terhimpit-himpit dan sangat tidak nyaman hidup di kampung kami kala itu. Kami tidak boleh berkehendak sesuka…

Read More

Tuah Haji Mo

Tuah Haji Mo

Cerita Mini  :   Saiful Bahri  | Haji Mo sepertinya tak pernah tua. Pancar teduh wajahnya, membinar sejuk embun dini pagi yang bergayut manja di pucuk perdu dan rumput-rumput liar. Rengkah senyumnya damaikan resah segala gundah. Tutur syahdu suaranya melipur jiwa-jiwa yang gerah, menyentil gairah darah merah agar hidup seutuhnya hidup. Tetapi ada masanya Haji Mo berketus-ketus, mengketuskan yang tak berkenan di hati, melenceng dari tata harmoni.Haji Mo haji harmoni! Haji Mo rasuki seni, suka-suka…

Read More

Taman Rindu Tak Sampai

Taman Rindu Tak Sampai

Cerita Mini:   Saiful Bahri   | Dalam rintik hujan berangin pagi itu, Said yang lelah, lusuh dan tua terperangah di sudut utara taman itu. Jengah, pangling, miris, haru, pilu, ngilu, kecewa, rasa-rasa tak mungkin, rasa-rasa tak percaya bergolak-golak dalam dada, lalu melesat dan mendesing-desing di batok kepala Said.Tamanitu, taman segala rindu, taman pelipur lara, taman sejarah dengan sejumlah situs kenangan Said muda belia, kini tak dijumpainya lagi. 15 menit Said tegak terpaku. 1 menit…

Read More

Musim Makan Angin

Musim Makan Angin

Cerita Mini   :   Saiful Bahri  | Petuah tua telah merekatkan hikmah akan awal mula semesta musim yang berpusing ganti berganti di kampung kami. Sesungguhnya itu semua telah terbuhul pada sejumput tanah, setetes air, sepercik api dan seraup angin yang melambai-lambai dan menjuntai-juntai disepanjang hidup leluhur kami dari satu zaman ke lain zaman. Bercerminkan musim, kami bagi-bagi sekenanya edaran masa boleh dan masa tak boleh untuk kesini dan kesitu, untuk bisa begini dan jangan…

Read More

Juru Sanggah

Juru Sanggah

Cerita Mini :  Saiful Bahri   | Apa peliknya sanggah? Sekedar menyanggah untuk membaik-baikkan buruk, memburuk-burukkan baik, membalik-balikkan timpang, mentimpang-timpangkan niat, tangkal-menangkal segala ingkar, ingkar-melingkar segala tohok, tohok kapok segala cecar, lalu cecarlah cerca dan caci habis segala usik, segala usut. Itu dan begitu-begitu saja selamanya. Maka, apa peliknya? Itulah kerja yang kugandrungi sekarang ini, sebuah lapak kerja berjuluk Juru Sanggah! Akulah Juru Sanggah, setelah berbagai juluk juru menjuru-juru di sekujur pelosok kampungku yang digirang gerayang…

Read More

Presiden Itu Sudah Tua

Presiden Itu Sudah Tua

Cerpen : Saiful Bahri  | Kala penanggalan Masehi merujuk pada 8-8-1988 di Meunasah Tuha taman itu kau pernah bergumam : tubuhku boleh luruh, cintaku tak pernah luluh. Maka sejak itu mulailah kau kukagumi. Mulailah kau cecar aku dengan petuah-petuah syair berseling getah latah hikayat-hikayat mirismu. Mulailah kau jungkirbalikkan aku dalam kepungan kata dan cerita derita bangsa. Larutlah aku dalammu! Dua tahun setelah larutku dalammu, engkau pun diangkat menjadi seorang presiden : Presiden Rex! Aku ingat…

Read More

Musang Berjanggut Lagi

Musang Berjanggut Lagi

Cerpen : Saiful Bahri | Perkabungan 1001 purnama mengenang tragedi pembantaian musang berjanggut tunailah sudah di ujung senja hari ini. Konon menurut kisah turun-temurun setelah 1001 purnama berlalu, kutuk serapah musang berjanggut akan tawar hilang sakti. Padahal menjelang nyawa meregang musang berjanggut telah menabur kutuk bahwa pada awal senja masa purnama ke 1001 musang-musang akan ketiban anugerah janggut. Semua bangsa musang akan berjaya dengan janggut-janggut. Namun hingga tengah malam, hingga purnama utuh sempurna dalam purnama,…

Read More

Minggu Terakhir

Minggu Terakhir

Cerpen : Saiful Bahri | Pada sangkaku, Minggu akhir Desember hampir tiga tahun yang lalu itu adalah Minggu Terakhir bagiku. Aku yang rebah, lalu terguling-guling di bumi berguncang-berguncang, lalu pitam, takut, kecut dan gemetar, hingga dalam sempurna gamang tiada daya, semestaku tergulung-gulung, tersaruk-saruk, terseret-seret, terhimpit-himpit, luluh-lantak dalam gelora membara air hitam kental hangat yang datang dari laut belakang kampungku, hingga seketika aku bersangka-sangka : ini dia Minggu Terakhir! Ternyata itu belum berakhir. Itu bukan Minggu…

Read More

Yang Terhormat Tuan Pencuri

Yang Terhormat Tuan Pencuri

Cerpen : Saiful Bahri | Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan! Kala masa kalut menerpa selingkar batas tanah kampung kami, sesungguhnya kami sangat sadar bahwa Pencuri-Pencuri itu adalah sebenar-benarnya pencuri. Kala masa kalut itu kami diperangkapkan untuk selalu mengingkarkan kepercayaan dan keyakinan kami akan jati diri si Pencuri bahwa ia itu memang utuh seorang pencuri. Kala masa kalut itu kami dipaksa untuk tak secuil pun punya anggapan yang berani-beraninya…

Read More

Abang Garang Berlidah Pendek

Abang Garang Berlidah Pendek

Cerpen : Saiful Bahri Ketika laut belakang kampung kami datangkan pasang perbani subuh tadi, pawang segala pawang hanya tercengang-cengang berkacak pinggang di simpang segala simpang. Pawang-pawang kampung sekali ini hilang rangsang. Zaman kejayaan pawang-pawang kampung mendadak saja tergerus, hangus, putus-putus! Peta kuasa pawang-pawang kini terhapuskan sudah! Masa berganti! Masa berganti! Ini masa, masa Abang. Abanglah yang berkuasa. Kampung dalam genggaman Abang. Pawang-pawang tak berkutik. Kami, penghuni kampung, termasuk adik-adik Abang, sanak-famili Abang, saudara-saudara jauh-dekat Abang,…

Read More
1 2