Burung Cicempala

Burung Cicempala

CERPEN: Salman Yoga S | @salmanyogas | Pegiat budaya dan Direktur The Gayo Institute, berdomisili di Aceh Tengah | Cerpen ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. “Naskah yang sama telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Rusia dan Bahasa Arab serta 20 bahasa dearah seluruh Indonesia,” tutur Salman kepada Infosastra.com. Namun, yang ditampilkan di sini hanya dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Gayo, Aceh. Selamat menikmati.

Read More

Lidah

Lidah

CERPEN: NI KOMANG ARIANI | NIKOMANGARIANI.COM | TWITTERL @MENULISFIKSI | Ni Ketut Rapti baru betul tiba di Jakarta dari perjalanan panjangnya dari Rendang, Karangasem, desa permai nun jauh di kaki Gunung Agung. Kini, di ruangan kecil, pengap, Ketut menyeka keringat yang deras menetes. Kulit legam dan alis tebalnya basah oleh keringat.

Read More

Sebotol Hujan untuk Sapardi

Sebotol Hujan untuk Sapardi

Cerpen: JOKO PINURBO | Cerpen ini dikutip dari Kompas, 7 Juni 2015. Saya jatuh cinta pada puisi gara-gara pada suatu malam, sebelum tidur, membaca seuntai kata dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono: “masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi”. Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA dan belum punya cita-cita. Kata-kata itu terus menggema dalam kepala saya dan membuat saya semakin suka bersendiri bersama puisi. Sempat terbetik keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penyair, tapi…

Read More

Lebaran Masih Jauh

Lebaran Masih Jauh

Cerpen Mustafa Ismail | Cerpen ini dikutip dari Suara Karya, Sabtu, 20 September 2008 Baru beberapa hari puasa, isteriku sudah banyak menerima SMS dari adik-adiknya di kampung agar mudik. Bahkan, ibunya sengaja menelpon meminta agar kami sekeluarga pulang. Tapi, isteriku cuek saja. “Lebih baik ibu ke Jakarta saja. Nanti aku kirim uang untuk ongkos,” kata isteriku pada ibunya. Aku tidak tahu bagaimana perasaan orang tua itu ketika mendengar ucapan anak tertuanya itu. Kata-kata isteriku, entah…

Read More

Tua

Tua

Cerpen Mustafa Ismail | Selain menulis cerpen, penulis juga penulis puisi, esai, dan bekerja sebagai jurnalis di Jakarta. Sebagian karyanya bisa dilihat di blog pribadinya musismail.com dan twitter: musismail. Kumpulan cerpennya “Cermin” (2009). Kumpulan cerpen terbarunya — segera terbit — adalah “Lelaki yang Ditelan Gerimis”. Cerpen “Tua” ini dikutip dari Republika, Minggu, 19 Agustus 2007. —————– Meski tulang rahangnya tetap kekar dan keras, wajahnya sudah menampakkan ketuaan. Tatapan matanya tidak setajam dulu. Dan mata itu…

Read More

Laki-laki Pemanggul Goni

Laki-laki Pemanggul Goni

Cerpen: Budi Darma| —- Cerpen “Laki-Laki Pemanggul Goni” karya Budi Darma ini tampil sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas 2012. Pengumuman dan anugerah cerpen pilihan itu diadakan di Bentara Budaya, Kamis malam, 27 Juni 2013. Cerpen ini dimuat di Harian Kompas, Minggu, 26 Februari 2012. Seperti biasanya, acara juga diwarnai dengan pameran ilustrasi cerpen Kompas yang berlangsung hingga 6 Juli mendatang. Cerpen ini dikutip dari website Kompas sebagai bahan apresiasi. —— SETIAP kali akan sembahyang, sebelum…

Read More

Di Mulut Lorong

Di Mulut Lorong

Cerpen: Hasyim KS | Lelaki kelahiran Lhok Paoh, Tapaktuan, Aceh, 21 Juli 1940 ini adalah salah seorang sastrawan terkemuka dari Aceh. Ia penyair, cerpenis, novelis, juga dramawan. Selain berkesenian, ia dikenal sebagai wartawan dan editor budaya yang mendorong lahirnya banyak sastrawan muda. Terakhir, sebelum meninggal pada 13 Januari 2004, ia bekerja sebagai redaktur budaya di Harian Serambi Indonesia. ===== Di mulut lorong itu dia berdiri. Mulut lorong yang gelap pekat oleh bayangan pohon asam. Dan…

Read More

Hujan Emas

Hujan Emas

Cerita Mini : Saiful Bahri  | Ahuuuiii….pada akhirnya hujan emas ketiban jua menyiram kampung kami, setelah lelah melapuk diganyang hujan badai, hujan pelor, hujan darah, hujan mayat, yang menderaikan linang pedih air mata bermasa-masa. Namun, pada ujung-ujungnya nikmat jua yang terdekap, hujan emas pula yang menyekap. Kami masih ingat betul masa-masa itu, masa-masa sebelum bersiram hujan emas. Sungguh sempit, terhimpit-himpit dan sangat tidak nyaman hidup di kampung kami kala itu. Kami tidak boleh berkehendak sesuka…

Read More

Tuah Haji Mo

Tuah Haji Mo

Cerita Mini  :   Saiful Bahri  | Haji Mo sepertinya tak pernah tua. Pancar teduh wajahnya, membinar sejuk embun dini pagi yang bergayut manja di pucuk perdu dan rumput-rumput liar. Rengkah senyumnya damaikan resah segala gundah. Tutur syahdu suaranya melipur jiwa-jiwa yang gerah, menyentil gairah darah merah agar hidup seutuhnya hidup. Tetapi ada masanya Haji Mo berketus-ketus, mengketuskan yang tak berkenan di hati, melenceng dari tata harmoni.Haji Mo haji harmoni! Haji Mo rasuki seni, suka-suka…

Read More

Lorong

Lorong

Cerpen Mustafa Ismail | Cerpen ini pernah dimuat di Kompas, Minggu, 30 Juli 2006 | Lorong itu sangat sunyi. Tidak ada satu pun yang lewat, sore itu. Bahkan tiap sore, sangat jarang yang lewat di lorong sepanjang 700 meter itu. Semua rumah dan gedung di sana membelakangi lorong itu dengan temboknya yang tinggi. Semua seolah tidak mau membuatnya sebagai jalan untuk dilewati. Sebetulnya, lorong itu terlalu besar untuk disebut lorong. Sebab, lorong itu lebih dari…

Read More
1 2 3