Gadis Kecil Penjual Korek Api

Gadis Kecil Penjual Korek Api

Cerita: H.C. Andersen | Pada malam Natal, orang-orang berjalan dengan wajah gembira memenuhi jalanan kota. Di sana, ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. “Mau beli korek api? Ibu, belilah korek api ini.” “Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak.” Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu. Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya.

Read More

Cinta di Kota Terlarang

Cinta di Kota Terlarang

Cerpen Ngarto Februana | Perjalanan malam itu seperti tak pernah berujung sejak kereta meninggalkan stasiun keberangkatan di tengah kota. Kereta commuter berlari, berhenti, dan berlari lagi. Stasiun demi stasiun terlewati, penumpang berebut naik dan terburu-buru turun. Tapi kami tak peduli karena terbenam dalam asyiknya obrolan. Ngobrol bersama seorang teman, wanita cantik berkerudung merah jambu, waktu terasa cepat berlalu dan perjalanan terasa asyik. Seperti hari-hari lalu, setiap naik kereta bersama, Geraldinne Anderson suka bercerita tentang apa…

Read More

Mata yang Menawan

Mata yang Menawan

Cerpen Irfan Budiman | SEJAK pria berbadan tegap itu mengatakan bahwa mata saya begitu indah, hampir semua orang yang bertemu dengan saya selalu memperhatikan kedua bola mata saya. Tak henti-henti. Mereka bilang saya memiliki mata yang menawan. Mereka, tak peduli bapak-bapak, ibu-ibu rumahan atau yang sering pergi ke mal dan kafe, dan teman sejawat, mengatakan mata saya punya pesona yang sulit dilupakan. Ah, saya tidak mau ambil pusing. Pujian itu (tapi saya tak pernah merasa…

Read More

Detak Jantung dan Hati yang Meracau

Detak Jantung dan Hati yang Meracau

Cerpen Edgar Allan Poe | Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat gelisah pada waktu itu — sekarang pun masih. Namun, mengapa kalian menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi, membuatnya tumpul. Dibanding indera lainnya, indera pendengaranku paling tajam. Aku mendengar semua hal di langit dan di bumi. Aku mendengar suara di neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila? Dengarlah! Kalian akan tahu betapa warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan kuceritakan kepada kalian seluruh detail kejadiannya….

Read More

Taman Rindu Tak Sampai

Taman Rindu Tak Sampai

Cerita Mini:   Saiful Bahri   | Dalam rintik hujan berangin pagi itu, Said yang lelah, lusuh dan tua terperangah di sudut utara taman itu. Jengah, pangling, miris, haru, pilu, ngilu, kecewa, rasa-rasa tak mungkin, rasa-rasa tak percaya bergolak-golak dalam dada, lalu melesat dan mendesing-desing di batok kepala Said.Tamanitu, taman segala rindu, taman pelipur lara, taman sejarah dengan sejumlah situs kenangan Said muda belia, kini tak dijumpainya lagi. 15 menit Said tegak terpaku. 1 menit…

Read More

Musim Makan Angin

Musim Makan Angin

Cerita Mini   :   Saiful Bahri  | Petuah tua telah merekatkan hikmah akan awal mula semesta musim yang berpusing ganti berganti di kampung kami. Sesungguhnya itu semua telah terbuhul pada sejumput tanah, setetes air, sepercik api dan seraup angin yang melambai-lambai dan menjuntai-juntai disepanjang hidup leluhur kami dari satu zaman ke lain zaman. Bercerminkan musim, kami bagi-bagi sekenanya edaran masa boleh dan masa tak boleh untuk kesini dan kesitu, untuk bisa begini dan jangan…

Read More

Juru Sanggah

Juru Sanggah

Cerita Mini :  Saiful Bahri   | Apa peliknya sanggah? Sekedar menyanggah untuk membaik-baikkan buruk, memburuk-burukkan baik, membalik-balikkan timpang, mentimpang-timpangkan niat, tangkal-menangkal segala ingkar, ingkar-melingkar segala tohok, tohok kapok segala cecar, lalu cecarlah cerca dan caci habis segala usik, segala usut. Itu dan begitu-begitu saja selamanya. Maka, apa peliknya? Itulah kerja yang kugandrungi sekarang ini, sebuah lapak kerja berjuluk Juru Sanggah! Akulah Juru Sanggah, setelah berbagai juluk juru menjuru-juru di sekujur pelosok kampungku yang digirang gerayang…

Read More

Presiden Itu Sudah Tua

Presiden Itu Sudah Tua

Cerpen : Saiful Bahri  | Kala penanggalan Masehi merujuk pada 8-8-1988 di Meunasah Tuha taman itu kau pernah bergumam : tubuhku boleh luruh, cintaku tak pernah luluh. Maka sejak itu mulailah kau kukagumi. Mulailah kau cecar aku dengan petuah-petuah syair berseling getah latah hikayat-hikayat mirismu. Mulailah kau jungkirbalikkan aku dalam kepungan kata dan cerita derita bangsa. Larutlah aku dalammu! Dua tahun setelah larutku dalammu, engkau pun diangkat menjadi seorang presiden : Presiden Rex! Aku ingat…

Read More

Musang Berjanggut Lagi

Musang Berjanggut Lagi

Cerpen : Saiful Bahri | Perkabungan 1001 purnama mengenang tragedi pembantaian musang berjanggut tunailah sudah di ujung senja hari ini. Konon menurut kisah turun-temurun setelah 1001 purnama berlalu, kutuk serapah musang berjanggut akan tawar hilang sakti. Padahal menjelang nyawa meregang musang berjanggut telah menabur kutuk bahwa pada awal senja masa purnama ke 1001 musang-musang akan ketiban anugerah janggut. Semua bangsa musang akan berjaya dengan janggut-janggut. Namun hingga tengah malam, hingga purnama utuh sempurna dalam purnama,…

Read More

Minggu Terakhir

Minggu Terakhir

Cerpen : Saiful Bahri | Pada sangkaku, Minggu akhir Desember hampir tiga tahun yang lalu itu adalah Minggu Terakhir bagiku. Aku yang rebah, lalu terguling-guling di bumi berguncang-berguncang, lalu pitam, takut, kecut dan gemetar, hingga dalam sempurna gamang tiada daya, semestaku tergulung-gulung, tersaruk-saruk, terseret-seret, terhimpit-himpit, luluh-lantak dalam gelora membara air hitam kental hangat yang datang dari laut belakang kampungku, hingga seketika aku bersangka-sangka : ini dia Minggu Terakhir! Ternyata itu belum berakhir. Itu bukan Minggu…

Read More
1 2 3