Ketika Wulan Menulis Bulan

Ketika Wulan Menulis Bulan

Telaah Ringan atas Kumpulan Puisi “Menulis Bulan” karya Wulan Suminarsih | Oleh : Dedy Tri Riyadi | Sebuah puisi menurut Wulan Suminarsih adalah sebuah gerak alam bawah sadar yang mengemuka ketika waktunya tiba lalu menjadi suatu sajian dari penciptanya untuk siapa saja. Sajian yang dimaksud lebih luas dari sekedar kata-kata, dari makna yang dikandung oleh kata-kata tersebut, bahkan lebih dari suatu rasa yang didapat ketika pembaca telah selesai membaca puisi itu. Hal ini saya rangkum…

Read More

Tsunami dan Sajak-sajak Penyair Aceh

Tsunami dan Sajak-sajak Penyair Aceh

LK Ara, penyair dan pengamat sastra | Kata ‘tsunami’ mungkin tidak kita temui dalam puisi penyair klasik Aceh, Hamzah Fansuri. Namun, penyair sufi Aceh yang hidup pada abad ke-17 itu dalam puisi Syair Perahu ada menyebut perahu, riak, karang dan ombak: Ketahuilah olehmu hai anak dagang/riaknya rencam ombaknya karang. Dengan bahasanya yang khas sang penyair penyebut riak yang kacau dengan riak rencam. Bisa jadi, itu sebuah isyarat, bahwa bencana ombak tsunami bisa mengancam rakyat Aceh…

Read More

Seni dan Civil Society

Seni dan Civil Society

(Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra) Oleh Ignas Kleden I Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada hari ini.

Read More
1 2 3