Juru Sanggah

Cerita Mini :  Saiful Bahri   |

Apa peliknya sanggah? Sekedar menyanggah untuk membaik-baikkan buruk, memburuk-burukkan baik, membalik-balikkan timpang, mentimpang-timpangkan niat, tangkal-menangkal segala ingkar, ingkar-melingkar segala tohok, tohok kapok segala cecar, lalu cecarlah cerca dan caci habis segala usik, segala usut. Itu dan begitu-begitu saja selamanya. Maka, apa peliknya? Itulah kerja yang kugandrungi sekarang ini, sebuah lapak kerja berjuluk Juru Sanggah!

Akulah Juru Sanggah, setelah berbagai juluk juru menjuru-juru di sekujur pelosok kampungku yang digirang gerayang banyak orang. Aku bersenang hati, sebab semenjak dahulu kala kampungku telah dikerubung banyak juru. Mulai dari juru bicara yang hanya bicara-bicara saja, lalu juru rawat, juru parkir, juru masak, juru kunci, juru pangkas, juru tipu, juru tembak, juru jagal, juru runding, hingga juru damai. Dan akhirnya berhingga pula kini pada julukku, si Juru Sanggah. Akulah Juru Sanggah!

Sebagai anak kampung, aku mengerti banyak seluk-beluk adat tabiat ulah bertingkah watak perangai orang-orang penghuni kampung. Mereka semua sangatlah cerewet. Di mata, di kepala dan di hati mereka semua tak baik, semua buruk dan salah. Tak ini, tak itu, semua jangan. Mereka selalu senang berburuk sangka dengan tuding-tuding yang berjangan-jangan. Jangan-jangan itu begini! Jangan-jangan ini begitu! Aku heran, bingung dan terkadang kecewa dengan ulah sebegitu itu yang terus mereka pelihara. Tidaklah sepatutnya mereka terus bergelimang persangkaan buruk dengan mengendus-ngendus dan mengungkit-ungkit prilaku orang, kejanggalan tak tersengaja, target kerja dan kinerja yang sedikit anjlok, dan sederet remeh-temeh lain yang selalu buruk dan tak pernah mereka beranggap benar.

Aku semakin heran, bingung dan kecewa ketika berhadapan dengan kenyataan yang menghadang masa depan kampungku. Sungguh sangat kacau kampungku jika terus berpusing-pusing dalam lingkar kalut warga yang picik. Tidak akan cita gapai cerlang gemilang wajah kampungku jika aku tetap bermuram durja, tidak berbuat apa-apa. Dan sungguh celaka jika aku bangga bermuram durja, acuh, malas tak tahu harus berbuat apa.

Maka, ketika ada tawaran kerja dari sebuah tempat hebat yang peduli hajat hidup orang banyak di kampungku, cepat-cepat peluang itu kusosor dengan suka cita. Ini dia yang kutunggu-tunggu, sebuah kerja yang sepele, tetapi asyik dan besar dampak manfaat. Sebuah kerja yang tidak sembarang orang bisa. Sebuah kerja yang tidak sebarangan orang bisa. Ya, inilah kerjaku : Juru Sanggah!

“Mengapa Saudara mau jadi Juru Sanggah”tanya Penguji fit and proper test pada suatu kesempatan testing fomalitas.
“Suka saja”jawabku singkat .
“Oh, tidak bisa begitu. Tidak sekedar suka. Saudara harus punya visi dan misi!”
“Lho, kok visi? Apanya misi?”
“Iya, dong! Biar tergetnya fokus!”
“Jadi? Oke. Oke, saya mengerti!”
“Nah!”
“Hehehe..”
“Tidak semata tergiur upah ’kan?”
“Hus! Saya tak peduli upah. Saya peduli kampung”
“Wah, mulia sekali kepedulian Saudara!”
“Jadi, bagaimana?”
“Selamat! Saudara lulus!”
“Lulus?”
“Ya!”

Sejak hari itu mulailah aku tekuni kerja itu dengan bersungguh hati. Di batas antara adaku dan tiadaku, sekejap melintas geriap bayang indah masa kecil di pelataran kampung, berseling cericit burung-burung di dahan randu, pantul bening pagi di telaga tua, sayup syahdu senja manis di tanggul pantai, dan lolong pilu anjing liar di bawah redup purnama akhir malam di kaki bukit tepi kampung. Begitu liar geriap bayang itu membanting-banting anganku. Hanya sekali aku meringis. Setelah itu kutebar beruntai-untai senyum sinis.

Dikesendirian diri aku bergumam, apa peliknya sanggah-menyanggah, sekedar membaik-baikkan buruk, memburuk-burukkan baik, membalik-balikkan timpang, mentimpang-timpangkan niat, tangkal-menangkal segala ingkar, ingkar-melingkar segala tohok, tohok kapok segala cecar, cecar, cerca, caci habis segala usik bongkar membongkar. Itu dan begitu-begitu saja selamanya. Aku terus bergumam-gumam, memahir-mahirkan diri untuk berlihai-lihai menyanggah segala sanggah.

Banda Aceh, 9 November 2007